Jumat, 04 September 2009

Inspirasi RE No.35

Mengundurkan Diri

Ada banyak alasan seorang karyawan untuk mengundurkan diri dari tempat
dia bekerja. Mungkin karena gajinya kurang dan ada tempat lain yang
memberinya gaji lebih tinggi, mungkin karena kariernya mentok sudah,
mungkin karena suasana kerja yang tidak nyaman. Mungkin pula karena
pekerjaannya tidak cocok atau tidak mampu, atau mungkin karena alasan
kesehatan dan alasan keluarga. Masih banyak alasan lainnya, demikian pun
mungkin alasan murid-murid yang meninggalkan Yesus, mungkin mereka
tidak nyaman dengan pernyataan Yesus yang terlalu keras, mungkin mereka
tidak betah karena tidak mendapatkan keuntungan materi, mungkin juga
karena alasan masa depan yang tidak terjamin, atau mungkin karena tertarik
pada gadis atau pemuda farisi yang tidak sependapat dengan ajarannya.

Goncangan

Polisi tidur yang melintang di jalan-jalan kampung bertujuan untuk
membatasi kecepatan orang berkendaraan, supaya mereka tidak ngebut,
karena membahayakan pejalan kaki atau anak-anak yang ‘sliweran’. Namun
kalau nekat juga, dan tetap ngebut saat melintasi polisi tidur maka
pengendara itu akan mengalami goncangan dan terpaksa ‘njondhil’.
Perkataan Yesus menjadi goncangan pada iman murid-muridNya, sekiranya
kita pun mendengar secara langsung mungkin kita akan tergoncang juga,
kita akan ‘njondhil’ karena perkataan itu demikian membatasi keakuan kita,
membatasi harapan kita yang muluk-muluk. Bahkan membatasi pikiran kita
yang selalu berusaha memahami Dia dengan akal dan lupa bahwa kita
mengenal Dia adalah karena karunia Bapa semata.

Terlalu Keras

Untuk makanan yang terlalu keras, mungkin kita bisa menggigitnya sedikit
demi sedikit, atau menghancurkannya terlebih dahulu dengan di’uleg’. Tapi
untuk perkataanNya yang terlalu keras, kita hanya bisa melihat ke dalam diri
kita sendiri, adakah iman kita terlalu lemah, adakah kita tidak sungguhsungguh
meyakini Dia, atau adakah kita terlalu mengagungkan diri kita
sendiri? Agaknya sekali waktu kita perlu ‘nguleg’ perkataanNya tanpa harus
membuangnya, karena perkataan yang keras itu Dia sampaikan hanya
dengan satu alasan, Dia terlalu mencintai kita.

Kita Adalah....

Jika Dia dikaruniakan Bapa bagi kita, maka kita adalah....anak-anakNya
Jika Dia adalah roti kehidupan untuk kita, maka kita adalah ...anak kehidupan
Jika Dia adalah sumber air hidup bagi kita, maka kita adalah ..saluran rahmat
bagi sesama.

Duit Kaget

Di sisi luar dos makanan kemasan (doremitoss) terdapat tulisan ‘DUIT
KAGET’ karena dalam salah satu kemasan entah yang mana ada duitnya.
Seorang pembeli bertanya, “Berapa duit yang ada di dalam kemasan itu?”
ketika sang penjual menjawab 500 perak, spontan pembeli itu berkomentar,
“Kalo 500 perak mah nggak bikin kaget, kalo 100 ribu baru bisa bikin kaget.”
Rahmat di hidup keseharian sering tidak membuat kita kaget, karena yang
membuat kita kaget adalah mukjizat besar yang pantas kita ceritakan kesana
kemari dengan label ‘kesaksian’.

Rahmat yang Tumpah

Karena saat hendak memasukkan es batu ke dalam plastik berisi air teh,
sembari menyapa pembeli, kantung plastik itu jatuh dan air teh manis pun
tumpah. Hal yang harunya mendatangkan keuntungan, ternyata malah rugi dan
ditambah harus repot ngepel lantai segala. Meski demikian, penjual itu tidak
menangis sedih, melainkan tertawa dan menganggap peristiwa kerugian itu
tidaklah seberapa. Jika saja yang tumpah bukan sekantung air teh manis,
melainkan rejeki besar yang mestinya mendatangkan kebahagiaan, namun
tumpah karena keteledoran kita hingga mengakibatkan kerugian, kita akan
meraung keras-keras, dan mengutuki nasib kita yang sial. Seringkali yang
tumpah adalah sekantung rahmat yang mestinya membuat kita menyadari
kasihNya, sayang rahmat yang tumpah berceceran itu kita pandang sebelah
mata, karena kita asyik mengejar ‘rahmat’ besar yang dapat menyematkan
label ‘sukses’ pada kehidupan kita.

108

Jika ingin tahu nomer telpon dari alamat yang kita ketahui, atau ingin mendapat
informasi alamat dari nomer telpon yang kita ketahui, cukup telpon ke 108, maka
informasi tersebut akan kita dapatkan. Untuk mendapatkan informasi mengenai
rahmat dari sabda yang kita baca, atau mendengar sabda dari rahmat yang kita
peroleh, cukup kita letakkan telpon dan pandanglah mata dan hatiNya.

Read More....

Inspirasi RE No. 36

Persoalan Kita

Jika pernyataan Yesus, “Kalian memuliakan Aku dengan bibir, padahal hati
kalian jauh dari padaKu!” ditujukan kepada kita, maka untuk membuktikan
bahwa pernyataanNya tidak benar adalah dengan berubah. Hari demi hari
berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Namun justru seringkali kita
tidak peduli dengan perubahan dalam diri kita. Adakah kita akan berubah
menjadi lebih baik? Niat itu sering terlewatkan, kalaupun muncul akhirnya
hanya berhenti sebagai niat semata. Itulah agaknya persoalan kita.

Adat Istiadat

Perbedaan orang Farisi dengan orang Jawa adalah, jika orang farisi memberi
stigma ‘najis’ untuk pelanggaran adat-istiadat, orang Jawa menggunakan
kata lebih halus ‘ora ilok’. Namun kata ‘ora ilok’ itu pun saat ini sudah tidak lagi
dipedulikan. Nah, untuk memperkeras perkataan maka bisa digunakan kata
“Ora nggenah!” Namun karena perkembangan konsep indiviudalisme yang
semakin kuat, maka kata ‘ora nggenah’ pun tidak lagi membuat orang untuk
‘mawas diri’. Lha, untuk yang sudah sampai taraf seperti ini masih ada
perkataan yang lebih keras lagi, “wong edan!!” Namun karena jamannya
memang sudah jaman edan, maka istilah itu pun diterima sebagai pujian.
Jadi, perbedaannya orang Farisi dengan orang Jawa adalah kalau orang
Farisi takut dengan kata ‘najis’, orang Jawa di jaman ini tidak ada lagi yang
ditakuti atau membuat resah dirinya.

Najis, lho!

Suatu malam kami bicara soal najis. Menurutku, “Istilah najis mungkin identik
dengan istilah kotor, namun najis lebih spesifik karena menyangkut kotor
yang menodai kesucian. Pikiran-pikiran kotor sering dianggap tidak menodai
kesucian. Jadi tidak najis, karena menurut adat najis hanya menempel pada
benda atau perbuatan yang kelihatan.
Yesus lebih melihat hubungan manusia dengan Allah di tempat yang tidak
kelihatan, jadi pikiran kotor dari hati yang kotor itu,....najis lho!! “
Komentar temanku, “Ah, najis dan haram kan urusan MUI, lha kita kan
beragama Katolik?”

Sudah Keluar

Bagiku yang paling menyebalkan adalah, ketika kami sudah siap berangkat
dan sudah berada di luar rumah, tiba-tiba istriku kembali masuk ke dalam
karena ada sesuatu yang kelupaan. Komentarku, “Wong sudah keluar koq
masuk lagi!” Istriku tidak pernah marah dengan omelanku, karena dia tahu
bahwa omelan itu bukan keluar dari hati, tetapi hanya karena kebiasaan saja.
Dan dia pun tidak merasa risau karena kebiasaan lupa tidak ada dalam
kamus aturan adat istiadat, bahkan dalam adat istiadat Yahudi sekalipun.
Dengan Bibir
Dengan bibir pula kita bisa berdoa, tersenyum ramah, dan mengungkapkan
kasih. Tapi jika semua itu dilakukan hanya dengan bibir, sama halnya kita
tidak melakukan apa-apa.

Gelas

Penjual angkringan biasanya memisahkan antara gelas yang biasa untuk
minuman panas dan gelas yang biasa digunakan untuk minuman dingin. Hal itu
dilakukannya supay gelas tidak mudah pecah. Dia memahami bahwa kebiasaan
panas dan dingin itu merubah bagian dalam gelas, sekalipun bentuknya tetap
gelas. Gelas yang dibelinya dalam keadaan baru, telah berbeda dengan gelas
yang sekarang. Kitalah yang sering tidak menyadari perubahan dalam diri kita.
Adakah kita hari ini telah berubah dari kita yang kemarin? Ataukah kita terkejut
karena baru sadar bahwa kita telah banyak berubah, dan proses perubahan itu
sama sekali tidak kita sadari. Kita baru sadar ketika kita merasa pecah.

DOA

Berdoa sangatlah sederhana, tetapi menjadi sangat sederhana, itulah kesulitan
kita.

Terjebak

Setiap pulang melayat atau dari kuburan, pokoknya yang berhubungan sengan
orang mati, istriku mewajibkan kami untuk mencuci kaki terlebih dahulu sebelum
masuk ke dalam rumah. Katanya untuk menghilangkan ‘angsar’ atau pengaruh
buruk. Sampai suatu hari ketika kami pulang dari melayat dan hendak mencuci
kaki,eh...kran air mati, air PAM tidak mengalir sementara kami tidak mempunyai
sumur. Mau nebeng ke tetangga tentu sama saja, karena di lingkungan kami tak
ada yang membuat sumur. Jadilah kami duduk-duduk di teras menunggu air
mengalir lagi. Sementara aku merasa ingin buang air kecil, sementara di dinding
rumah kami tergantung salib-salib, dan gambar Yesus.

Read More....

Inspirasi RE No. 37

Pokokmen

Ada kata dalam bahasa Jawa yang membuat kita menjadi bisu dan tuli, yakni
kata ‘pokokmen’. Satu kata ini memang istimewa. Kalau sudah ...’pokokmen’
maka kita menjadi orang tuli yang tidak mau mendengar lagi pendapat orang
lain. Kalau sudah...’pokokmen’ maka kita menjadi orang bisu yang tidak bisa
berkata lain kecuali...’pokokmen’, sekalipun orang lain tidak mengerti.
Bahkan kalau sudah ...‘pokokmen’ , Allah pun harus menuruti kita.

Efata*

Ketika kita marah karena sikap dan tindakan orang lain, ketika kita kesal
karena orang lain tidak bisa memahami prinsip kita, Dia berbisik pelan di
telinga kita ‘Efata...’. Ketika kita sedih, ketika kita bahagia, Dia berbisik pelan
di telinga kita, ‘Efata...’. Ketika kita diam dan tak tahu harus berkata apa, Dia
berbisik pelan di telinga kita, ‘Efata...’. Dan ketika kita memejamkan mata
karena tidak bisa menerima kenyataan hidup, Dia pun berbisik pelan
‘Efata...’. Sayangnya bisikannya sangat lembut dan dengan mudah ditelah
oleh keinginan untuk mengangkapkan diri kita sendiri. Akhirnya ‘Efata...’ itu
tidak pernah kita dengar.
(*Efata = Terbukalah)

Bisu dan Tuli

Ada empat orang, yang satu tuli karena gendang telinganya pecah saat
mendengar bom meledak tidak jauh darinya. Dia pernah bisa mendengar,
namun sekarang kehilangan pendengarannya. Yang satu bisu karena pita
suaranya rusak akibat suatu penyakit. Dia pernah bisa bicara tetapi
kehilangan kemampuannya berbicara.Yang satu lagi bisu dan tuli sejak lahir,
dia tidak pernah bisa berbicara dan tidak pernah bisa mendengar
sebelumnya. Jika ada pertanyaan, lantas yang satu lagi bagaimana? Marilah
kita melihat ke dalam diri dan hati kita sendiri.

Namanya Gudheg

Tuli dalam bahasa Jawa namanya ‘bu..dheg’, bingung tidak tahu harus
bagaimana disebut ‘ju...dheg’, kalau yang sering untuk sarapan namanya
‘gu...dheg’. Nah, kalau dinasehati tidak juga manut namanya ‘nda...bleg’.
Tidak begerak kemanapun namanya ‘man...dheg’.
Dari kelima istilah itu,hanya yang namanya gudheg yang tidak sering melekat pada diri kita. Sementara istilah yang lain,.....iya juga sich! Hati kita sering ‘budheg’, pikiran kita sering ‘judheg’ , sikap kita sering ‘ndableg’ , iman kita juga ‘mandheg’.

Takut Salib

Pak Haji datang dan berbincang denganku. Dia bercerita suatu saat
menderita sakit dan dirawat di rumah sakit Panti Rapih. Ketika dia ingin
melaksanakan Shalat di tempat tidur, dia melihat salib Yesus persis di
depannya. Pak Haji ngak jadi shalat. Ketika perawat datang, dia meminta
agar tempat tidurnya diputar supaya dia bisa melaksanakan shalat.
Pak Haji itu terlalu takut untuk menyembah Yesus, sementara kita terlalu
takut untuk mengikuti Yesus. Kita lebih berani mengikuti kesenangan dan
kemauan kita sendiri.

Anak Kunci

Barang yang kita pergunakan untuk membuka pintu rumah adalah anak kunci.
Anak kunci juga kita pergunakan untuk menghidupkan kendaraan. Anak kunci
pula yang kita pergunakan untuk membuka lemari ataupun kotak simpanan kita.
Jika anak kunci hilang...ah jangan khawatir, masih ada tukang kunci.
Untuk membuka hati dan menghidupkan iman kita butuh anak kunci
khusus.Anak kunci itu bernama ‘kasih’. Jika kita kehilangan kasih, ..ah jangan
khawatir, Dia adalah sumber kasih yang tak akan pernah kering.

Aku ki...

Coba perhatikan gaya bicara kita. Adakah kita sering memulai kalimat dengan
kata ‘Aku ki...’ atau ‘Saya itu...’? Semakin banyak kalimat yang kita ucapkan
dengan awalan kata itu, menunjukkan bahwa kita lebih sering ingin didengar,
dan tidak ingin menjadi pendengar.

Gelang Karet

Gelang karet sangat beraneka ragam kegunaannya dan kita paling sering
kebingungan mencarinya ketika membutuhkan. Gelang karet bisa untuk
mengikat sesuatu, bisa untuk menjepret sesuatu, bisa untuk dimainkan di selasela
jari atau bermain lompat tali.
Sabda Tuhan di dalam kitab suci pun sangat beraneka ragam manfaatnya,
hanya saja kita sering kebingungan untuk mencari dan memahaminya, terlebih
menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti gelang karet, sabda juga
sering dibuat menjadi sangat lentur, semata-mata agar kita bisa memaklumi diri
kita sendiri.

Read More....

Minggu, 16 Agustus 2009

Inspirasi RE 34

Hidup Selama-lamanya

Jika ada tawaran bagi kita untuk hidup selamanya, spontan kita akan
memisahkan ‘hidup’ yang ditawarkan itu dengan hidup kita di dunia. Entah
kita akan mengartikan ‘hidup’ itu sebagai apa, yang jelas bukan hidup kita
saat ini, bukan hidup kita di dunia ini. Kita terlalu yakin bahwa hidup di dunia
sementara, dan kita terlalu yakin bahwa semua manusia di dunia ditakdirkan
untuk mati. Dan saking yakinnya, maka kita pun berusaha menikmati hidup di
dunia ini sepuas-puasnya, mumpung belum berakhir. Dan untuk tawaran
‘hidup’ selamanya, mungkin kita hanya menjawab, ‘Ah...ntar sajalah..”

Sekiranya

“Ini tubuhKu, ini darahKu...makan dan minumlah”
Berhentilah sejenak, dan mari kita menghayatinya.
Sekiranya kita dapat merasakan bahwa itu adalah tubuh dan darah Kristus,
maka terpampang salib di depan kita yang menunggu untuk kita pikul.
Sekiranya kita yakin bahwa itu adalah tubuh dan darah Kristus yang
sesungguhnya, maka tak akan ada orang katolik yang kaya raya.
Sekiranya kita menghayati benar bahwa itu adalah tubuh dan darah Kristus
yang sesungguhnya, maka kita tak perlu lagi menggunakan kata ‘sekiranya’.

Darah

Kata darah seringkali digunakan dalam frasa idiomatik. Darah seni berarti
bakat seni, darah muda berarti semangat muda, darah biru berarti keturunan
bangsawan, darah pahlawan berarti pengorbanan pahlawan. Bagaimana
kita akan mengartikan darah Kristus?

18 Bulan Lagi

Pengadilan Myanmar menjatuhkan hukuman 18 bulan tahanan rumah bagi
Suu Kyi karena dia mengizinkan warga AS tinggal di rumahnya selama dua
hari. Seandainya orang itu tinggal lebih lama lagi, mungkin lebih lama pula
hukuman yang dijatuhkan pada Suu Kyi. Untuk selanjutnya, mungkin Suu Kyi
akan lebih berhati-hati menerima dan mengizinkan orang lain tinggal di
rumahnya. Untuk alasan yang nyaris sama, kita pun sangat berhati-hati
untuk menerima dan megizinkan Yesus tinggal dalam rumah dan hati kita,
saking hati-hatinya kita merasa cukup hanya dengan menempel gambarNya,
patung, atau memasang salibNya.

Kaca Mata

Kaca mata minus untuk orang yang rabun jauh, kaca mata plus untuk yang
rabun dekat. Kaca mata rangkap, untuk mereka yang melihat jauh susah
melihat dekat juga susah.
Orang-orang Yahudi yang mendengar sabdaYesus tidak sakit mata, tetapi
mereka tidak bisa melihat jauhnya makna yang ada dalam sabda Yesus, dan
mereka pun tidak bisa melihat dekatnya kasih yang ada di hadapan mereka.
Agaknya mata hati mereka memerlukan kaca mata rangkap, persis seperti
juga...................................................................................................... kita!!!

Kitab Suci-ku

Kitab suci kecil selalu berada di dalam tasku. Dahulu kitab suci itu hanya kubuka
ketika aku hendak berdoa dan mencari tahu bagaimana Dia bersabda untuk
persoalan hidupku. Namun akhir-akhir ini aku lebih suka membuka kitab suci
karena rindu untuk mendengar suaraNya, dan kerinduan itulah yang semakin
hari semakin aku nikmati.
Kitab suci kecilku, tetap berupa buku, dan lembar-lembar yang ada di dalamnya
tetap berupa kertas, namun sabda-sabdaNya yang tertulis selalu bersuara di
dalam hati sanubariku.

Amplop Kecil

Beberapa orang melintas di depan sebuah toko, tiba-tiba serempak belok dan
masuk ke dalam toko itu. Mereka membeli barang yang sama, yakni amplop
kecil. Beberapa saat kemudian rombongan lain datang dan membeli amplop
kecil pula. Orang-orang itu hendak melayat, dan amplop kecil dibutuhkan untuk
‘nyumbang’. Dengan amplop itu mereka merasa aman dan nyaman, sebab
seberapapun yang mereka masukkan tak ada yang mengetahuinya. Hanya nilai
kepantasan yang membatasi mereka dalam menentukan jumlah sumbangan
yang akan diberikan.
Jika nilai kepantasan masih kita pergunakan untuk menentukan besarnya
persembahan kita kepada Tuhan, bagaimana kita akan menilai apa yang telah
Dia berikan kepada kita? Di dalam amplop kecil kita memberi namun
keseluruhan diriNya kita dapatkan.

Sekering

Sekering adalah alat pengaman, yang akan terputus jika arus listrik terlalu besar
melewatinya. Di dalam logika kita pun terdapat sekering yang akan terputus jika
arus rahmat demikian besar melewatinya. Ada sekering yang batasnya terlalu
kecil sehingga logika kita kerap putus dan semua dianggap mukjizat, ada yang
batasnya terlalu besar sehingga sebesar apapun rahmat yang mengalir, tetap
saja dipahami sebatas dengan logika dan tak pernah bisa melihat mukjizat.

Read More....

Inspirasi RE 33

Dua Kalimat

Dalam Injil Lukas diceritakan bahwa sebelum Maria mengunjungi Elizabeth,
kalimat yang dia ucapkan adalah, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku
seturut perkataanmu.”
Ketika dia bertemu Elizabeth, maka salah satu kalimat Elizabeth adalah,
“Siapakah aku ini, hingga ibu Tuhan datang padaku?”
Jika kita diminta memilih untuk menirukan, kalimat yang manakah yang
hendak kita tirukan?

Sudah Mulia, Koq

Ketika di gereja, saat umat bernyanyi seorang anak tidak mau ikut bernyanyi.
Ayahnya menegur anak itu katanya,”Nak menyanyi itu untuk memuliakan
Tuhan.” Anak itupun sambil berbisik protes pada ayahnya, “Pak, ngapain kita
memuliakan Tuhan? Tuhan itu, nggak usah kita muliakan juga sudah Maha
Mulia.”
Dengan sabar ayahnya menjelaskan, “Nak, memuliakan Tuhan itu berarti
menempatkan Tuhan sebagai yang paling berharga, paling berarti di dalam
hidup kita. Memang Tuhan itu segalanya, namun sering kita mengabaikannya,
bukan?”

Jiwa yang Berbicara

Ada dua jiwa di alam baka berjalan beriringan. Mereka meregang nyawa
selisih tiga hari saja. Yang satu suka tertawa, yang satu suka mengumbar
ekspresi untuk sebuah gugatan yang dirangkainya sendiri.
Keduanya terus berjalan, meski di dunia mereka saling kenal namun tidak
saling pandang karena mata tak lagi mereka miliki. Keduanya berdampingan
namun tak lagi berkata-kata karena mulut dan lidah tertinggal sudah di dunia.
Yang satu tak mampu tertawa, yang satu tak mampu mengurai rasa.
Sekiranya jiwa-jiwa itu mampu berbicara, mereka akan mengungkapkan
kepada kita, tentang arti kesederhanaan dan kehormatan setelah ajal tiba.

Nyanyian Belalang

Seekor belalang bernyanyi, menyanyikan kidung malam. Kidung itu
menceritakan kisah seorang ayah yang bernama Cyprianus dan ibu yang
bernama Chatarina, mempunyai seorang anak yang lalu diberinya nama
Willibrordus Surendra. Namun entah mengapa, agaknya karena anaknya
tumbuh di jaman yang salah hingga jadi seorang pemberontak, maka setelah
tua nama Willibrordus Surendra itu tak pernah disebut secara panjang
melainkan cukup dengan singkatan WS. Dan entah kenapa pula bertahuntahun
kemudian inisial WS dipanjangkan kembali menjadi Wahyu Salaiman.
Hingga akhir hayatnya, dia tetap bernama Wahyu Salaiman.
Entah kenapa pula, tiba-tiba saja nyanyian belalang itu berhenti. Agaknya dia
tak sanggup melanjutkan nyanyiannya lagi.

Sepatu Baru


Dengan nada guyon, seorang teman berkata, “Jika Rendra masih Katolik,
tentu dia mengenakan sepatu baru, atau paling tidak sepatu yang masih
bagus, atau mengenakan kaos kaki ketika disemayamkan. Tapi karena
bukan, yah...telanjang kaki jadinya.”
“Jadi itu juga, alasanmu untuk tetap beragama Katolik?” tanyaku sekenanya.
“Oooh ,.. tidak! Aku tetap jadi Katolik karena Dia sudah memberiku hidup baru.”
Jawabnya sembari membayangkan sepatu baru yang akan dipakainya nanti.

Mari Bicara


Marilah kita duduk bersama. Di hadapan kita hadir Bunda Maria yang karena
kasihnya kepada kita berkenan turun dari surga. Di hadapan kita pula hadir Ibu
Elizabeth. Nah...jika hal itu benar-benar terjadi, lantas apa yang hendak kita
bicarakan? Adakah kita tetap menyampaikan permohonan-permohonan
ataukah kita ikut mereka memuji Allah?

Coretan di Atas Kertas


Kebiasaanku saat menerima telepon adalah corat-coret di atas kertas. Ada saja
kertas penting yang kadang jadi sasaran tangan isengku. Dengan kebiasaan itu,
rasanya aku lebih santai dalam berbicara. Sekalipun coretan-coretan itu tanpa
arti, bahkan kadang berupa gambar benang kusut, namun kegiatan itu sungguh
sangat berarti.
Dengan berdoa kita mungkin tidak langung mendapatkan jawaban atas segala
persoalan hidup kita, namun kegiatan itu sungguh berarti.

Menunggu Bhiku


Di pelataran biara Mendut, ada kolam memanjang dimana di tengahnya tumbuh
bunga-bunga teratai yang sedang mekar. Sambil menunggu para Bhiku sarapan
pagi, aku memperhatikan masing-masing kelopak bunga teratai itu. Ukurannya,
warnanya, semua hampir sama. Semua mekar untuk memperlihatkan
keindahan dari simbol-simbol yang digenggamnya.
Tanpa terasa aku memperhatikan helai-helai kelopak dalam bunga
kehidupanku. Ada banyak kelopak memang, namun hanya beberapa yang
mekar, selebihnya kering dan layu oleh teriknya kesombongan diri, dan hangus
oleh kepentingan diri. Sementara kasihNya terus saja menaungi diriku.

Read More....